1. Pulau Menjangan.
Pulau yang terletak di bali barat ini terkenal dengan kecantikan bawah lautnya dan pasir putihnya. Saya mendapat info bahwa beberapa saat lagi , saat kita masuk akan di charge biaya restribusi. Sebenarnya restribusi tersebut tidak masalah, asal fasilitas dan kebersihan diperhatikan. Karena pemandangan yang sangat kontras sangat mengganggu mata saya . Pemandangan indahnya sekitar menjangan dan kotoran .
Sangat disayangkan kebersihan pulau tidak dijaga. Padahal saat saya berkunjung , banyak wisatawan asing yang datang . Hal ini merupakan promosi yang buruk mengenai menjangan.
2. Ijen
Ada 2 hal yang menarik mengenai Ijen.
a. Kisah penambang belerang .
Saat saya mendaki saya berjalan dan bercakap cakap dengan pak Mul. Beliau merupakan salah satu penambang belerang. Saya bertanya setiap hari naik turun gunung berapa kali?, beliau menjawab 2 kali. Untuk saya yang ngos ngosan mendaki , jawaban dari pak Mul membuat saya terhenyak. Tapi itu baru terhenyak saya yang pertama. Saya bertanya kemudian setiap kali memanggul kira kira berapa kilo yang di panggul, dan jawaban pak Mul membuat saya terhenyak yang kedua. Pak Mul mengatakan 60 - 90 kg. Tak berhenti disitu saya melanjutkan pertanyaan yang ketiga, berapa upah dari mengambil belerang? untuk mengambil belerang yang susah , berisiko dan sangat lelah , per kilo nya hanya di hargai 700 - 900 rupiah ( saya lupa persisnya brapa) . Jawab yang terakhir membuat saya terhenyak yang ketiga kalinya, dan kata kata WOW keluar dari mulut saya. Bukan Wow bahagia, namun wow sedih. Pak Mul mengatakan mengapa pekerjaan ini dipilih oleh mayoritas warga kawasan ijen, karena hanya pekerjaan ini lah yang membuka lapangan pekerjaan untuk mereka.
b. Kisah sekeluarga relawan pengambil sampah di Ijen
2 jam mendaki , sampailah saya. Namun rupanya saya tidak langsung diberi kenikmatan untuk segera memandang keindahan Kawah Ijen. Karena saat saya sampai puncak, yang terlihat adalah kabut. Akhirnya saya menikmati waktu saya dengan duduk merelaxkan kaki saya dan memperhatikan sekitar saya. Hari itu Ijen tampak ramai, karena saat berangkat merupakan hari libur nasional. Dan seperti yang bisa dibayangkan, banyaknya orang membuat tupukan sampah semakin banyak. Saya cukup menghela nafas, melihat kelakuan masyarakat yang tidak disiplin membuang sampah pada tempatnya. Seenaknya saja mreka membuang sampah dimana mana. Saat saya hanya bisa mengomel, saya disuguhi pemandangan yang luar biasa. Ada sekeluarga yang saya lihat dari penampilannya , bukan pemulung. Mereka orang berada yang concern dengan kebersihan. Dua putrinya diajara mereka untuk turut menjaga kebersihan di tempat wisata ini. Sayub sayub saya dengar " dek , itu masih ada sampahnya, diambil dek " " ibu, ini sampahnya ada tapi, kantong plastiknya habis " sang ibu mengeluarkan kantong plastik dari backpack nya " ini dek, yang sudah penuh kasihkan ke ayah , biar ayah yang bawa " . Ternyata masi ada orang yang peduli dengan lingkungan . Seandainya semua kita peduli seperti mereka. Malu saya yang hanya bisa ngomel dalam hati. Mereka memberikan contoh nyata didepan saya. Luar Biasa.
