Jumat, 22 Mei 2015

Another stories about Menjangan and Kawah Ijen

Tulisan kali ini merupakan kisah lain dari 2 tempat wisata yang saya kunjungi. Bukan mengenai keindahan panoramanya , ada beberapa yang saya secara pribadi tertarik untuk menulisnya.

1. Pulau Menjangan. 
Pulau yang terletak di bali barat ini terkenal dengan kecantikan bawah lautnya dan pasir putihnya. Saya mendapat info bahwa beberapa saat lagi , saat kita masuk akan di charge biaya restribusi. Sebenarnya restribusi tersebut tidak masalah, asal fasilitas dan kebersihan diperhatikan. Karena pemandangan yang sangat kontras sangat mengganggu mata saya . Pemandangan indahnya sekitar menjangan dan kotoran . 
Sangat disayangkan kebersihan pulau tidak dijaga. Padahal saat saya berkunjung , banyak wisatawan asing yang datang . Hal ini merupakan promosi yang buruk mengenai menjangan. 
2. Ijen 
Ada 2 hal yang menarik mengenai Ijen. 
a. Kisah penambang belerang . 
Saat saya mendaki saya berjalan dan bercakap cakap dengan pak Mul. Beliau merupakan salah satu penambang belerang. Saya bertanya setiap hari naik turun gunung berapa kali?, beliau  menjawab 2 kali. Untuk saya yang ngos ngosan mendaki , jawaban dari pak Mul membuat saya terhenyak. Tapi itu baru terhenyak saya yang pertama. Saya bertanya kemudian setiap kali memanggul kira kira berapa kilo yang di panggul, dan jawaban pak Mul membuat saya terhenyak yang kedua. Pak Mul mengatakan 60 - 90 kg.  Tak berhenti disitu saya melanjutkan pertanyaan yang ketiga, berapa upah dari mengambil belerang? untuk mengambil belerang yang susah , berisiko dan sangat lelah , per kilo nya hanya di hargai 700 - 900 rupiah ( saya lupa persisnya brapa)  . Jawab yang terakhir membuat saya terhenyak yang ketiga kalinya, dan kata kata WOW keluar dari mulut saya. Bukan Wow bahagia, namun wow sedih. Pak Mul mengatakan mengapa pekerjaan ini dipilih oleh mayoritas warga kawasan ijen, karena hanya pekerjaan ini lah yang membuka lapangan pekerjaan untuk mereka. 
b. Kisah sekeluarga relawan pengambil sampah di Ijen 
2 jam mendaki , sampailah saya. Namun rupanya saya tidak langsung diberi kenikmatan untuk segera memandang keindahan Kawah Ijen. Karena saat saya sampai puncak, yang terlihat adalah kabut. Akhirnya saya menikmati waktu saya dengan duduk merelaxkan kaki saya dan memperhatikan sekitar saya. Hari itu Ijen tampak ramai, karena saat berangkat merupakan hari libur nasional. Dan seperti yang bisa dibayangkan, banyaknya orang membuat tupukan sampah semakin banyak. Saya cukup menghela nafas, melihat kelakuan masyarakat yang tidak disiplin membuang sampah pada tempatnya. Seenaknya saja mreka membuang sampah dimana mana. Saat saya hanya bisa mengomel, saya disuguhi pemandangan yang luar biasa. Ada sekeluarga yang saya lihat dari penampilannya , bukan pemulung. Mereka orang berada yang concern dengan kebersihan.  Dua putrinya diajara mereka untuk turut menjaga kebersihan di tempat wisata ini. Sayub sayub saya dengar " dek , itu masih ada sampahnya, diambil dek " " ibu, ini sampahnya ada tapi, kantong plastiknya habis "  sang ibu mengeluarkan kantong plastik dari backpack nya  " ini dek, yang sudah penuh kasihkan ke ayah , biar ayah yang bawa " . Ternyata masi ada orang yang peduli dengan lingkungan . Seandainya semua kita peduli seperti mereka. Malu saya yang hanya bisa ngomel dalam hati. Mereka memberikan contoh nyata didepan saya. Luar Biasa. 

Selasa, 19 Mei 2015

Kisahku dan Ijen

Berasa alay memberi judul dalam blog ini "Kisahku dan Ijen"  .  Tapi ini adalah janji saya terhadap diri saya , bila sampai di Surabaya , yang saya lakukan adalah menulis kisah saya ini .  # Berasa alay beneran , hahahahahha

Kawah Ijen adalah destinasi wisata yang sudah saya canangkan sejak tahun lalu, tergoda dengan foto foto cantik yang terupload di media social. Rasa penasaran terhadap keindahan Kawah Ijen membuat saya exited dengan perjalanan ini. 
Bangun jam 1 pagi dan berkendara menuju pos  Paltuding , jam 2.30 saya mulai pendakian.  10 Menit pertama saya nyaris give up. Nafas terasa berat, hati ini bergolak " lanjut atau mundur " . Rupanya rasa gengsi mengalahkan rasa capek. Berulang kali saya berkata pada diri saya " Tya kamu pasti bisa, melangkah saja , melangkah " . Berulang kali pula saya berdoa " Tuhan kuatkan saya" . 2 Jam kemudian saya sampai. Achievement saya, melihat kawah ijen accomplish   . Langkah saya memang tidak cepat, mungkin bagi pendaki gunung perjalanan yang saya tuliskan adalah sebuah lelucon, tapi tidak untuk saya. Untuk saya ini merupakan sebuah filosofi hidup.   
1. Sama seperti saat saya mendaki, hidupun demikian. Akan ada dakian dalam hidup yang memberatkan. Membuat ngos ngosan, membuat payah , membuat letih dan nyaris putus asa.  Yang membuat saya letih karena saya tidak melatih tubuh saya dengan baik.  Seandaimya saya rajin berolahraga , mungkin ini tidak akan terjadi. Dalam hidupun demikian, latihlah iman kita dengan mendekatkan diri padaNya. Saat iman kita meningkat, kita akan dapat menghadapi semua problema hidup dengan lebih bijaksana. 
2. Saat berada titik putus asa dan pilihan adalah mundur, tetaplah melangkah. Walau dengan langkah yang pelan . Karena melangkah akan mendekatkan kita dengan impian.
3. Saat langkah terasa sangat berat dan dada terasa sesak, berhentilah. Bernafaslah lebih dalam relaxkan kaki. Saat ada masalah, berhentilah sejenak untuk merenungkan, merefleksi apa yang terjadi. Relaxkan hati dan pikiran kita . Jangan MUNDUR , dan menyerah!
4. Tidak ada kekuatan yang lebih kuat dari sebuah Doa. Doa adalah charge terbaik. Membuat kita sadar, bahwa kita ini kecil tanpaNYA. Kita ini tidak ada apa apanya. Apa yang kita sombongkan?
5. Saya beruntung karena mendaki bersama teman teman yang memberi support. Dalam hidup, bertemanlah dengan orang yang memberi motivasi. Bukan sebaliknya. Berteman dengan orang yang pesimis akan membuat kita sulit melihat hidup ini indah dari segala sudut.
6. Saat saya lelah , saya bertanya berapa jauh ? masih lamakah? . Pertanyaan yang membuat saya semakin terasa lelah. Dalam kehidupan pun demikian. Jangan bertanya " kapankah masalah ini akan berakhir " . Jalani saja kehidupan ini , lurus kedepan. dan .... kita akan menyadari ternyata kita telah di puncak dan masalah yang membebani kita ternyata telah berada di belakang dan telah terlewati. 






Kamis, 07 Mei 2015

Unity In Diversity

Bhineka Tunggal Ika
Berbeda beda tetapi satu
Pancasila
Yes, i was  Proud to be Indonesian but dunno right know.
Do i still love this country?



I was sitting on white sand beach with my close friend
we were different
She was wearing hijab and i wasn't
She is moslem and i'm christian
but
we were looking same sunset
we were sitting in the same sky
we were breathing with the same air
we respect to each other
we tolerate each other
we held hands , to help each other
we are not interfere what religion we have
we believe , that everyone have their own path.
God does not make any religions to fight for each other

So... why we are not just loving  and caring . Make this country peacefull.

Unity in Diversity